Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026, 87,6 Insania FM Radio Network — Jaringan Radio Kemanusiaan, Pendidikan, dan Kebudayaan menghadirkan program Radiotalk Inspirasi Siang dengan tema “Mengembalikan Budaya Ayah Mengasuh” sebagai ruang edukasi publik untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Radiotalk ini diinisiasi oleh Insania FM sebagai bagian dari komitmen radio dalam menghadirkan konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi keluarga dan masyarakat. Melalui pendekatan komunikasi publik yang edukatif, Insania FM mengangkat isu keterlibatan ayah dalam keluarga sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Menghadirkan narasumber dari Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Utara dan Program Studi Ilmu Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), diskusi ini membahas fenomena fatherless serta pentingnya mengembalikan peran ayah sebagai figur yang hadir secara emosional dalam kehidupan anak.

Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Utara melalui Faradila Mahmud, S.Psi., Penelaah Teknis Kebijakan, menyampaikan bahwa kehadiran ayah dalam keluarga menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan keluarga.

Faradila menjelaskan bahwa peran ayah tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai pencari nafkah atau provider, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki tanggung jawab dalam proses tumbuh kembang anak. “Melalui kampanye Ayah Wajib Hadir, kami ingin mengubah paradigma bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu, melainkan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Kehadiran ayah secara emosional sangat penting dalam membangun karakter, kepercayaan diri, serta kesehatan mental anak,” ujar Faradila.

Berdasarkan data Pendataan Keluarga (PK) Tahun 2025, sebanyak 22,87 persen anak di Provinsi Maluku Utara terindikasi mengalami kondisi fatherless, yaitu kondisi ketika anak tumbuh dengan minimnya keterlibatan emosional dari sosok ayah. Menurut BKKBN, persoalan ini menjadi perhatian bersama karena keluarga merupakan lingkungan pertama dalam membentuk kualitas generasi mendatang. Karena itu, berbagai program seperti GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor), GEMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah), serta edukasi pengasuhan positif melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) terus didorong sebagai upaya meningkatkan keterlibatan ayah.

Dari perspektif psikologi, Nurfia Abdullah, M.Psi., Dosen Program Studi Ilmu Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), menjelaskan bahwa kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak. Menurutnya, anak membutuhkan figur ayah bukan hanya melalui kehadiran fisik, tetapi juga melalui hubungan emosional yang hangat dan konsisten.

“Ayah menjadi salah satu figur penting dalam membentuk harga diri, kemampuan mengambil keputusan, serta regulasi emosi anak. Ketika anak memiliki hubungan yang positif dengan ayahnya, mereka cenderung memiliki rasa percaya diri dan ketahanan diri yang lebih kuat,” jelas Nurfiyah. Ia menambahkan bahwa budaya pengasuhan perlu dikembalikan sebagai tanggung jawab bersama dalam keluarga. Ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan tumbuh yang sehat bagi anak.

Melalui Radiotalk “Mengembalikan Budaya Ayah Mengasuh”, Insania FM mengajak masyarakat untuk melihat kembali makna kehadiran seorang ayah di dalam keluarga. Kehadiran ayah tidak selalu diukur dari banyaknya waktu, tetapi dari kualitas interaksi, perhatian, dan keterlibatan dalam kehidupan anak.

Insania FM juga mengajak para ayah untuk memulai langkah sederhana, seperti meluangkan waktu berbicara dengan anak, mendengarkan cerita mereka, memberikan dukungan, serta hadir dalam momen penting perkembangan anak. Karena keluarga yang kuat tidak hanya dibangun dari kecukupan materi, tetapi juga dari kasih sayang, komunikasi, dan kehadiran.

Melalui semangat Hari Keluarga Nasional ke-33 Tahun 2026, Insania FM terus berkomitmen menghadirkan program yang memperkuat nilai kemanusiaan, pendidikan, dan kebudayaan melalui siaran radio yang berdampak.



Arie Erffandy Daswir