Masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu dan sekitarnya, diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi penurunan ketersediaan air bersih selama musim kemarau 2026.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu, Medya Ramdhan, dalam program Insania Peduli Kemanusiaan di Insania FM Radio Network. Imbauan tersebut disampaikan menyusul prediksi BMKG yang memperkirakan 52 persen zona musim di Sulawesi Tengah akan mengalami kondisi lebih kering dari biasanya, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September 2026.

Medya menjelaskan, potensi krisis air tidak hanya dipengaruhi oleh rendahnya curah hujan. Degradasi daerah tangkapan air, pertumbuhan penduduk, kebocoran jaringan distribusi, hingga pola penggunaan air yang kurang efisien turut memengaruhi ketersediaan air.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BWS Sulawesi III Palu melakukan sejumlah langkah, mulai dari pemantauan debit sungai dan jaringan irigasi, optimalisasi infrastruktur pengairan, hingga penerapan sistem giliran distribusi air apabila diperlukan.

Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan bersama pemerintah daerah, BMKG, BPBD, serta Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) untuk memastikan pengelolaan sumber daya air dapat berjalan secara optimal selama musim kemarau.

Selain upaya pemerintah, masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya krisis air. Warga diimbau menghemat penggunaan air di rumah, memastikan keran tertutup saat tidak digunakan, serta segera memperbaiki kebocoran pada saluran air.

Masyarakat juga diminta turut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai dan mempertahankan kawasan resapan air. Upaya sederhana seperti membuat lubang biopori maupun sumur resapan dapat membantu menjaga ketersediaan air di lingkungan.

Medya mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi potensi kekeringan. Menurutnya, langkah yang paling penting adalah membangun kesadaran untuk menggunakan air secara bijak sejak sumber air masih tersedia.

Kesiapsiagaan dan penghematan air sejak dini diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi musim kemarau sekaligus mengurangi risiko terjadinya krisis air bersih di Sulawesi Tengah.



Candra Toby