Kecanggihan teknologi kebencanaan dinilai belum cukup tanpa kesiapsiagaan masyarakat dalam merespons informasi resmi. Pesan itu mengemuka dalam Radiotalk Insania Peduli Kemanusiaan bertajuk “Teknologi, Bencana, dan Kesiapsiagaan” yang disiarkan berjaringan oleh Insania FM Radio Network pada Jumat (24/7).
Dialog menghadirkan Kepala Basarnas Maluku Utara, Iwan Ramadani, S.E., M.M., dan PMG Muda Stasiun Geofisika Ternate, Basri Kamaruddin, M.T., untuk membahas kesiapan mitigasi bencana di Maluku Utara yang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami. Dalam diskusi tersebut, keduanya menyoroti pentingnya sinergi antara teknologi, kesiapan petugas, dan kesadaran masyarakat agar upaya penyelamatan dapat berjalan lebih efektif.
Basri menjelaskan, BMKG telah memasang berbagai perangkat pemantauan di Maluku Utara, termasuk 17 sensor gempa bumi dan 18 alat pengukur tinggi muka air laut untuk mendukung peringatan dini tsunami. Ia menegaskan, kecepatan informasi sangat penting karena di beberapa wilayah, tsunami bisa tiba hanya dalam hitungan menit. Karena itu, sistem pemantauan dan penyebaran informasi harus terus diperkuat agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri.
“Informasi gempa bumi kami upayakan dapat diterbitkan maksimal tiga menit setelah kejadian, sedangkan peringatan dini tsunami maksimal lima menit,” ujarnya.
Sementara itu, Iwan Ramdani mengatakan tantangan utama Basarnas di wilayah kepulauan adalah jarak antarpulau, cuaca laut, dan akses komunikasi. Meski begitu, Basarnas terus memperkuat kesiapan personel dan peralatan agar respons darurat bisa dilakukan lebih cepat. Menurutnya, kondisi geografis Maluku Utara menuntut petugas untuk selalu siap bergerak dalam berbagai situasi, termasuk saat akses menuju lokasi kejadian tidak mudah dijangkau.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada armada dan peralatan, tetapi juga pada kecepatan laporan dari masyarakat serta koordinasi lintas lembaga di lapangan. Dengan dukungan itu, proses pencarian dan pertolongan dapat dilakukan secara lebih terarah dan tepat sasaran.
Keduanya sepakat bahwa teknologi harus diiringi edukasi dan disiplin masyarakat. Warga diimbau memahami jalur evakuasi, mengikuti arahan petugas, dan hanya mengakses informasi dari sumber resmi agar risiko korban dapat ditekan. Mereka juga menekankan pentingnya latihan kebencanaan secara berkala, baik di lingkungan sekolah, kantor, maupun komunitas, supaya masyarakat tidak panik ketika menghadapi situasi darurat.
Radiotalk Insania Peduli Kemanusiaan merupakan program edukasi publik hasil kolaborasi Insania FM Radio Network bersama Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) yang rutin membahas isu kemanusiaan, kesehatan, lingkungan, hukum, dan kebencanaan. Program ini disiarkan melalui jaringan 97,9 FM Gorontalo, 88,7 FM Sorong, 87,6 FM Ternate, 100,8 FM Makassar, 103,4 FM Palu, 87,6 FM Mataram, 92,5 FM Luwuk, dan 101,1 FM Sumbawa.