Seni Tari Banggai bukan sekadar rangkaian gerakan dalam sebuah pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari sejarah, identitas, dan nilai budaya masyarakat Banggai. Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan generasi muda sekaligus dukungan keluarga, sekolah, komunitas seni, dan pemerintah daerah. Hal tersebut disampaikan Amalia Laise, S.Pd. SD, Pembina Komunitas Seni Rompong Kabupaten Banggai, dalam program Radiotalk Indonesiana, Kamis lalu.

Dalam perbincangan tersebut, Amalia mengatakan kecintaan terhadap budaya daerah menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk ikut melestarikan seni Tari Banggai. Menurutnya, ketika generasi muda mengenal dan mencintai kebudayaannya, mereka akan memiliki dorongan untuk mempelajari sekaligus meneruskan warisan tersebut kepada generasi berikutnya.

“Generasi muda harus mencintai dulu kebudayaan seni tari Banggai, baru bisa melestarikan seni tari Banggai ini,” kata Amalia.

Amalia menjelaskan, setiap gerakan dalam seni Tari Banggai memiliki nilai dan makna yang tidak hanya terlihat melalui gerakan tubuh, tetapi juga melalui penghayatan penari. Dalam seni tari, kemampuan tersebut dikenal melalui unsur wiraga dan wirasa.

Wiraga berkaitan dengan kemampuan penari dalam menguasai gerakan, sementara wirasa berkaitan dengan penghayatan dan rasa yang disampaikan ketika menari. Perpaduan keduanya menjadi bagian penting dalam membentuk penari tradisional Banggai yang mampu membawakan sebuah tarian secara utuh.

Salah satu seni tari Banggai yang dikenal masyarakat adalah Tari Molabot, yaitu tari penjemputan. Selain itu, sejumlah tarian Banggai juga menggunakan beras sebagai simbol kemakmuran. Berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa seni tari Banggai tidak terlepas dari nilai-nilai kehidupan sekaligus identitas masyarakat Banggai.

Upaya mengenalkan dan mengajarkan seni tari tersebut dilakukan Amalia melalui Komunitas Seni Rompong yang berdiri sejak 1 April 2005. Dalam proses pembinaan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah ketertarikan generasi muda terhadap gadget yang dinilai lebih besar dibandingkan minat untuk mempelajari kesenian tradisional.

Selain persoalan ketertarikan, proses belajar di sanggar juga membutuhkan ketekunan. Para calon penari harus menjalani latihan yang tidak selalu mudah dan terkadang melelahkan maupun membosankan, baik secara fisik maupun mental. Namun, menurut Amalia, mereka yang mampu melewati proses tersebut akan tumbuh menjadi penari tradisional Banggai dengan kemampuan wiraga dan wirasa yang semakin kuat.

Amalia menilai seni Tari Banggai tetap dapat dikembangkan mengikuti perkembangan zaman. Kreasi dan inovasi diperlukan agar seni tari tetap menarik bagi generasi masa kini, namun pengembangan tersebut tidak boleh menghilangkan gerakan asli yang menjadi ciri khas tarian.

Tidak hanya gerakan, kostum yang digunakan dalam seni Tari Banggai juga memiliki makna dan menjadi bagian dari identitas budaya. Karena itu, unsur-unsur tersebut perlu tetap dijaga ketika seni tari dikembangkan dalam bentuk pertunjukan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Menurut Amalia, tanggung jawab melestarikan seni Tari Banggai tidak dapat dibebankan hanya kepada komunitas seni. Orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memperkenalkan sekaligus memastikan keberlanjutan kesenian daerah kepada generasi muda.

Pengenalan budaya sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kesenian daerah. Sementara itu, komunitas seni dapat menjadi ruang bagi anak dan generasi muda untuk mempelajari serta mempraktikkan seni tari secara langsung.

Menutup Radiotalk Indonesiana, Amalia mengajak generasi muda untuk bersama-sama menjaga warisan seni Tari Banggai dan meneruskan tongkat estafet budaya kepada generasi berikutnya. Menurutnya, perkembangan zaman seharusnya tidak membuat generasi muda kehilangan identitas budaya, tetapi menjadi kesempatan untuk memperkenalkan seni Tari Banggai secara lebih luas tanpa meninggalkan nilai dan bentuk aslinya.



Fitri Kireina