Stroke kini tidak hanya menyerang lanjut usia, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan mulai usia 20 hingga 30 tahun. Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Bedah Saraf sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun, dr. Aryandhito Widhi Nugroho, Ph.D., Sp.BS, saat menjadi narasumber dalam program Inspirasi Siang Radio Insania FM Ternate, Jumat (24/7/2026).
Menurut dr. Aryandhito, stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik akibat sumbatan pembuluh darah maupun pecahnya pembuluh darah di otak. Saat suplai darah terhenti, jaringan otak tidak lagi mendapat oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan sehingga sel-sel otak dapat rusak dalam waktu singkat.
Ia menegaskan bahwa stroke kini tidak lagi identik dengan penyakit orang tua, karena kasus pada usia muda juga mulai banyak ditemukan. Kerusakan otak akibat stroke dapat terjadi hanya dalam hitungan menit sehingga penanganan cepat menjadi faktor yang sangat menentukan.
Peningkatan kasus stroke pada usia muda, lanjutnya, berkaitan erat dengan pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula dan kafein, kurang olahraga, sering begadang, stres berkepanjangan, serta kebiasaan merokok termasuk vape. Selain itu, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, dan gangguan irama jantung juga dapat meningkatkan risiko stroke, meski sering kali tidak disadari oleh penderita karena gejalanya muncul perlahan.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk dan masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan serta kematian. Dr. Aryandhito menegaskan pentingnya konsep Time is Brain atau waktu adalah otak, karena semakin lama pasien terlambat mendapatkan pertolongan, semakin besar pula bagian otak yang mengalami kerusakan.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala stroke melalui akronim “SeGeRa Ke RS”, yakni senyum tidak simetris, gerak melemah, bicara pelo, kebas pada salah satu sisi tubuh, rabun mendadak, dan sakit kepala hebat. Gejala tersebut bisa muncul tiba-tiba dan sering kali disertai kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, atau penurunan kesadaran.
“Kalau ada tanda-tanda seperti wajah mencong, tangan atau kaki lemah, bicara tidak jelas, atau tiba-tiba penglihatan kabur, jangan tunggu lama. Segera bawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat tidak boleh menunda penanganan dengan mencoba cara-cara yang tidak terbukti secara medis. Menurutnya, tindakan seperti menusuk ujung jari atau daun telinga tidak menyembuhkan stroke dan justru dapat membuang waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk mendapatkan pertolongan medis.
Selain mengenali gejala, masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengontrol tekanan darah, berhenti merokok, menjaga pola makan dengan mengurangi garam, gula, dan lemak berlebih, rutin beraktivitas fisik, mengelola stres, serta memeriksakan kesehatan secara berkala.
“Pencegahan itu jauh lebih baik. Dengan hidup sehat dan deteksi dini, risiko stroke bisa ditekan sejak awal,” pungkasnya.