Keindahan bawah laut Luwuk Banggai tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga ruang untuk olahraga, rekreasi, dan mengenal kekayaan bahari daerah. Namun, aktivitas seperti snorkeling, free diving, dan scuba diving membutuhkan kesiapan serta pemahaman keselamatan yang berbeda. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Inspirasi Siang di 92,5 Insania FM Luwuk yang menghadirkan Ramdan Lanusu dari Komunitas Luwuk Free Diving, Minggu (9/8).

Dalam radiotalk tersebut, Ramdan menjelaskan bahwa setiap aktivitas menyelam memiliki karakteristik dan tingkat kesiapan yang berbeda. Snorkeling relatif sederhana karena menggunakan peralatan dasar dan mengandalkan kemampuan berenang, sementara free diving membutuhkan latihan khusus, termasuk teknik pernapasan, penguasaan tubuh di dalam air, serta penggunaan fins berukuran panjang.

Sementara itu, scuba diving menggunakan peralatan yang lebih kompleks, seperti tabung udara dan regulator. Aktivitas tersebut juga membutuhkan pelatihan dan sertifikasi bagi penyelam agar dapat dilakukan sesuai prosedur keselamatan.

Menurut Ramdan, tantangan utama dalam free diving bukan hanya kemampuan menahan napas, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri saat berada di dalam air. Penyelam pemula perlu memahami teknik equalization, mengelola kepanikan, serta memastikan kondisi fisik dan mental dalam keadaan siap sebelum melakukan penyelaman.

Karena itu, ia mengingatkan penyelam untuk tidak melakukan aktivitas free diving seorang diri. Kehadiran buddy atau rekan selam yang kompeten menjadi bagian penting dalam memantau kondisi penyelam sekaligus memberikan pertolongan apabila terjadi keadaan darurat, termasuk blackout atau kehilangan kesadaran di bawah air.

“Free diving bukan aksi nekat yang mematikan. Kalau dilakukan sesuai prosedur dan didampingi buddy yang memahami keselamatan, olahraga ini bisa menjadi aktivitas yang aman sekaligus menyenangkan,” ujar Ramdan.

Potensi wisata bawah laut Luwuk Banggai juga terus dikembangkan melalui berbagai aktivitas komunitas. Luwuk Free Diving yang berdiri sejak 2018 menjadi wadah berbagi pengalaman sekaligus edukasi mengenai free diving dan turut melakukan kegiatan restorasi terumbu karang di kawasan Pantai Kilo Lima.

Komunitas tersebut juga pernah mencatat aksi spektakuler pada 2022 dengan membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 770 meter di bawah laut Pantai Kilo Lima dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Aksi tersebut tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Namun, perkembangan wisata bahari juga perlu diimbangi dengan pengelolaan keselamatan yang memadai. Ramdan menilai kawasan latihan free diving di Pantai Kilo Lima perlu memiliki line atau pembatas yang jelas untuk memisahkan area penyelaman dengan aktivitas wisata lain seperti jet ski dan speed banana boat.

Ia mengungkapkan, pernah terjadi insiden ketika seorang penyelam hampir tertabrak jet ski. Penyelam tersebut berhasil menghindar dan selamat, tetapi kejadian itu menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi wisata bahari.

Selain Pantai Kilo Lima, Ramdan menyebut Pulo Dua di Kecamatan Balantak Utara sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi untuk aktivitas free diving. Menurutnya, siapa pun dapat mempelajari olahraga tersebut selama bersedia berlatih, melakukan pemanasan, menjaga kesiapan fisik dan mental, serta memahami prosedur keselamatan.

Lebih dari sekadar olahraga dan wisata, Ramdan juga mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian laut. Pengurangan sampah plastik, perlindungan terumbu karang, serta larangan menangkap ikan yang dilindungi menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem bawah laut.

Melalui radiotalk tersebut, Insania FM mendorong masyarakat untuk menikmati potensi wisata bahari Luwuk Banggai dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kelestarian lingkungan. Menikmati laut, menurut Ramdan, bukan hanya tentang seberapa dalam seseorang mampu menyelam, tetapi juga tentang seberapa besar kepedulian yang ditinggalkan setelah kembali ke daratan.



Nurul Dalillah