Keberadaan ikan endemik tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan hayati suatu daerah, tetapi juga memiliki nilai ekologis, ekonomi, ilmiah, hingga potensi wisata. Namun, eksploitasi berlebihan, kerusakan habitat, serta rendahnya kesadaran terhadap konservasi menjadi ancaman bagi keberlangsungan sejumlah spesies endemik. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Radiotalk Indonesiana di 92,5 Insania FM Luwuk yang menghadirkan Lady Diana Khartiono, S.Pi., M.Si., Dosen Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk, Kamis (6/8).

Dalam perbincangan tersebut, Lady Diana menjelaskan bahwa pelestarian ikan endemik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga generasi muda. Menurutnya, keberadaan ikan endemik perlu dipandang sebagai aset daerah yang tidak hanya harus dilindungi, tetapi juga dapat dikembangkan secara berkelanjutan agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Salah satu ikan endemik yang menjadi perhatian adalah Banggai Cardinal Fish (BCF) atau yang dikenal masyarakat sebagai Capungan Banggai. Ikan hias berukuran kecil dengan corak tubuh khas tersebut merupakan salah satu identitas keanekaragaman hayati Kabupaten Banggai dan memiliki nilai ekonomi hingga pasar internasional.

Namun, Lady Diana mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi populasi Capungan Banggai yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Salah satu persoalan yang disorot adalah masih minimnya upaya pembudidayaan oleh masyarakat lokal, sementara potensi ikan tersebut justru banyak dimanfaatkan untuk perdagangan di luar negeri.

“Capungan Banggai merupakan ikan endemik kebanggaan Kabupaten Banggai. Sayangnya, masyarakat lokal masih kurang membudidayakan ikan ini. Justru negara-negara lain yang banyak memanfaatkan dan mengeksploitasi Banggai Cardinal Fish untuk diperdagangkan ke luar negeri,” ujar Lady Diana.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga sekaligus mengembangkan potensi ikan endemik yang dimiliki daerah sendiri. Pelestarian tidak cukup hanya dengan menjaga habitat alami, tetapi juga perlu dilakukan melalui kegiatan budidaya yang berkelanjutan.

Pengembangan budidaya dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan terhadap populasi ikan di alam. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa harus terus mengambil ikan dari habitat alaminya.

Lady Diana juga menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat memahami nilai strategis ikan endemik sebagai bagian dari warisan biodiversitas daerah. Menurutnya, semakin tinggi pemahaman masyarakat, semakin besar pula peluang terciptanya partisipasi aktif dalam upaya konservasi.

Generasi muda juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan Capungan Banggai. Tidak hanya melalui kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga dengan mengenal, mempelajari, serta ikut mengembangkan potensi ikan endemik sebagai bagian dari identitas daerah.

Di sisi lain, peran akademisi diperlukan untuk memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat. Pemantauan terhadap kegiatan pembudidayaan juga menjadi bagian penting agar pengembangan Capungan Banggai tetap berjalan sesuai prinsip keberlanjutan.

Menutup radiotalk, Lady Diana mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan Capungan Banggai hanya dikenal sebagai ikan endemik yang memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadikannya sebagai kekayaan daerah yang dijaga bersama. Menurutnya, kepedulian yang dibangun sejak sekarang akan menentukan apakah spesies tersebut tetap dapat dinikmati dan dikenal oleh generasi mendatang.

Melalui Radiotalk Indonesiana, Insania FM mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kekayaan hayati daerah. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memastikan Banggai Cardinal Fish tetap menjadi identitas sekaligus kebanggaan Kabupaten Banggai untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.



Fitri Kireina