Sastra Banggai tidak hanya hidup dalam cerita masa lalu. Di tengah perubahan cara generasi muda berkomunikasi, sastra tutur perlu menemukan ruang baru agar tetap dikenal, terdokumentasi, dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Banggai.
Hal tersebut disampaikan Ama Gaspar, penulis sekaligus Ketua Komunitas Babasal Mombasa, dalam program Inspirasi Siang 92,5 Insania FM Luwuk. Menurutnya, menjaga sastra Banggai tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi tutur, tetapi juga perlu memanfaatkan teknologi dan ruang digital.
Sastra Banggai berkembang melalui cerita, legenda, sejarah, hingga gagasan tentang peradaban yang diwariskan secara lisan. Tradisi tersebut menjadi kekuatan, sekaligus tantangan ketika proses pewarisan dan dokumentasi tidak berjalan dengan baik.
Ama menjelaskan, Komunitas Babasal Mombasa menjadi salah satu ruang bagi pegiat sastra untuk berkarya, berdiskusi, dan memperkenalkan sastra Banggai kepada masyarakat. Namun, keberlangsungan sastra tidak dapat hanya bergantung pada komunitas.
Dukungan pemerintah, sektor swasta, pemangku kebijakan, komunitas, dan masyarakat diperlukan agar sastra Banggai tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Salah satunya melalui Festival Sastra Banggai yang telah berlangsung hampir satu dekade.
Festival Sastra Banggai 2026 akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di RTH Teluk Lalong. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan pegiat sastra melalui bedah buku, pembacaan puisi, cerpen, serta berbagai kegiatan yang membuka pertukaran gagasan dan karya.
Di era digital, Ama melihat teknologi bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga peluang. Generasi muda dapat membawa gagasan sastra ke dalam tulisan, video, maupun media sosial tanpa harus kehilangan pesan dan identitas yang terkandung di dalamnya.
Bagi Ama, sastra juga menjadi bagian dari identitas Banggai Bersaudara yang dapat merekatkan Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut. Sastra bukan sekadar karya kreatif, tetapi juga ruang untuk menyimpan pengetahuan, sejarah, dan gagasan masyarakat.
Karena itu, sastra Banggai perlu terus direbut ruangnya, dikembangkan, dan didokumentasikan. Sebab, sastra bukan hanya warisan yang ditinggalkan generasi sebelumnya, tetapi gagasan yang harus tetap hidup dan menemukan pembacanya di setiap zaman.