Kemampuan public speaking masih menjadi keterampilan penting untuk dipelajari karena tidak hanya berkaitan dengan berbicara di depan banyak orang, tetapi juga menjadi bagian dari kemampuan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Andi Angio, M.Pd., CHT., CH, Founder Sigma Indonesia Banggai, dalam program RadioTalk Indonesiana dengan topik “Masih Perlukah Public Speaking?”. Menurutnya, kemampuan berbicara membantu seseorang menyampaikan pikiran, gagasan, maupun perasaan secara lebih jelas kepada orang lain.

Pemahaman tentang public speaking selama ini dinilai masih sering dipersempit sebagai kemampuan tampil di panggung, menjadi MC, berpidato, atau melakukan presentasi. Padahal, keterampilan tersebut digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari berkomunikasi dengan orang tua, pasangan, teman, guru, rekan kerja, hingga masyarakat.

Andi menjelaskan, banyak kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari dapat muncul karena seseorang tidak mampu menyampaikan maksud dan pikirannya secara tepat. Karena itu, kemampuan berkomunikasi perlu terus dilatih agar pesan yang disampaikan tidak hanya terdengar, tetapi juga dapat dipahami dengan baik oleh lawan bicara.

Salah satu hal penting dalam berkomunikasi adalah memahami tujuan sebelum menyampaikan sesuatu. Dengan mengetahui apa yang ingin disampaikan dan tujuan komunikasi tersebut, seseorang dapat menyusun pesan secara lebih tertata dan terstruktur.

Menurutnya, public speaking juga dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki kualitas diri. Kemampuan tersebut tidak hanya berbicara mengenai seberapa banyak seseorang berbicara, tetapi bagaimana pesan dapat diterima dan dipahami oleh orang lain.

Dalam proses belajar, rasa gugup menjadi hal yang wajar, terutama ketika seseorang menghadapi situasi komunikasi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kegugupan tidak perlu menjadi alasan untuk berhenti mencoba, tetapi dapat dikelola dengan mengalihkan perhatian pada audiens dan pesan yang ingin disampaikan.

Andi juga menekankan bahwa kemampuan public speaking tidak dapat berkembang hanya melalui teori. Keterampilan tersebut membutuhkan praktik, keberanian mengambil kesempatan, serta pengalaman berulang dalam berbagai situasi komunikasi.

Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi public speaker selama memiliki kemauan untuk belajar dan terus berproses. Kepercayaan terhadap pesan yang ingin disampaikan juga perlu dibangun agar seseorang mampu berbicara dengan lebih teratur dan terstruktur.

Rasa gugup, lanjutnya, justru dapat menjadi bagian dari proses perkembangan diri. Keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru akan memberikan pengalaman yang membantu seseorang belajar mengelola kegugupan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Melalui program Indonesiana, Sahabat Insania diajak memahami bahwa public speaking bukan hanya keterampilan untuk tampil di depan banyak orang. Kemampuan berkomunikasi merupakan keterampilan yang dapat diterapkan dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat dan dapat terus berkembang melalui kemauan untuk belajar dan berlatih.



Fitri Kireina