Gerakan Pramuka dinilai masih relevan bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital. Alih-alih meninggalkan pola kegiatan konvensional, Pramuka mulai memanfaatkan teknologi untuk membuat kegiatan lebih interaktif sekaligus membekali anggota dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Bidang Humas Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Banggai, Ramlan Labay, S.Pd., M.Pd., dalam program Inspirasi Siang Insania FM, Selasa (11/8).
Dalam radiotalk tersebut, Ramlan mengatakan minat generasi muda terhadap kegiatan Pramuka masih ada, tetapi cara belajar dan bentuk kegiatannya perlu menyesuaikan dengan karakter generasi digital. Menurutnya, generasi saat ini cenderung lebih tertarik pada kegiatan yang interaktif, menantang, sekaligus memberikan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pramuka sekarang tidak hanya tentang kegiatan di alam. Ada kepemimpinan, kewirausahaan, public speaking, konten digital, sampai mitigasi bencana,” jelas Ramlan.
Meski beradaptasi dengan perkembangan zaman, Ramlan menegaskan bahwa penyesuaian tersebut tetap berpegang pada sistem pendidikan kepramukaan. Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) tetap menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kemampuan dan kedisiplinan anggota, khususnya di tingkat gugus depan.
Pemanfaatan teknologi juga mulai diterapkan dalam pengelolaan kegiatan kepramukaan. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka telah mengembangkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) serta berbagai layanan digital, termasuk aplikasi Ayo Pramuka, untuk mendukung pendataan anggota dan aktivitas kepramukaan.
Teknologi bahkan digunakan dalam kegiatan berskala nasional. Dalam Jambore Nasional, misalnya, peserta memanfaatkan telepon seluler untuk memindai barcode di setiap pos kegiatan. Penggunaan teknologi tersebut membantu mempermudah rangkaian aktivitas, namun tetap mempertahankan unsur tantangan dan pembelajaran yang menjadi bagian dari kegiatan Pramuka.
Di Kabupaten Banggai, salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah Kemah Prestasi. Kegiatan yang digagas Kwarcab Banggai tersebut pernah melibatkan sekitar 12.000 peserta dan dikemas melalui berbagai aktivitas, mulai dari pioneering hingga tantangan kelompok.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas, tetapi juga belajar mandiri, bekerja sama, berpikir kreatif, serta menghadapi berbagai tantangan. Kemah Prestasi keempat dijadwalkan berlangsung di Kecamatan Moilong pada Oktober 2026 dengan format perlombaan dan penguatan materi.
Namun, pemanfaatan teknologi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Ramlan mengakui ketergantungan terhadap telepon seluler dapat mendorong sikap individualistis dan mengurangi interaksi sosial di antara peserta. Karena itu, kegiatan Pramuka tetap dirancang untuk mendorong peserta berinteraksi secara langsung, bekerja sama, dan membangun komunikasi dengan lingkungan sekitar.
Menurutnya, kegiatan yang interaktif dapat membantu peserta yang sebelumnya terlalu bergantung pada gawai untuk kembali aktif berkomunikasi dan bekerja sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung kegiatan, bukan menggantikan interaksi sosial dan pengalaman langsung yang menjadi bagian penting dalam pendidikan kepramukaan.
Pramuka juga memberikan perhatian terhadap persoalan bullying, baik yang terjadi secara langsung maupun melalui media sosial. Program anti-bullying dan love yourself menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kegiatan yang lebih aman sekaligus mendorong peserta untuk menghargai diri sendiri dan orang lain.
Di sisi lain, Ramlan menilai peran orang tua tetap penting dalam membentuk kemandirian anak. Anak perlu diberikan ruang untuk melakukan aktivitas dan mengambil keputusan sendiri sesuai dengan usianya. Orang tua tetap memberikan arahan dan pendampingan, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses yang seharusnya menjadi pengalaman belajar bagi anak.
Bagi Ramlan, pendidikan Pramuka pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan mengikuti berbagai kegiatan, tetapi juga bagaimana anak belajar menghadapi kegagalan, menyelesaikan masalah, dan bangkit ketika menghadapi tantangan.
Menutup radiotalk, Ramlan mengingatkan generasi muda agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tanpa kehilangan karakter dan kemampuan bersosialisasi. Menurutnya, menjadi bagian dari generasi digital harus berjalan seiring dengan kemampuan membangun tanggung jawab, kemandirian, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.
“Jadilah generasi digital yang cerdas, tetapi harus tetap memiliki karakter,” pesannya.