Pencegahan korupsi perlu dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak muda didorong membangun integritas sejak dini agar memiliki prinsip yang kuat sebelum terlibat dalam lingkungan kerja maupun organisasi.

Hal tersebut dibahas dalam RadioTalk “Jadilah Pemuda Berintegritas Tanpa Drama Korupsi” bersama Rahman Mohamad dan Elmawati Jaya, perwakilan Provinsi Gorontalo yang mengikuti program SINTESIS 2026 (Sinergi Integritas Muda Indonesia).

Rahman menjelaskan, SINTESIS menjadi bagian dari upaya pendidikan antikorupsi bagi generasi muda. Para peserta mendapatkan pembekalan selama sekitar empat hari di Jakarta dan Bandung dengan lebih dari 12 materi, termasuk audit sosial dan penyusunan aksi nyata pemberantasan korupsi di daerah.

Menurutnya, korupsi tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Kebiasaan seperti titip absen, tidak jujur, atau membiarkan kecurangan dapat membentuk budaya permisif jika terus dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Karena itu, integritas perlu dibangun sejak muda dan tidak harus menunggu seseorang memiliki jabatan atau kewenangan. Kejujuran dalam hal-hal kecil menjadi bagian penting dalam membentuk karakter antikorupsi.

Sementara itu, Elmawati menekankan pentingnya pendidikan integritas dari lingkungan keluarga. Kebiasaan mengambil sesuatu tanpa izin atau menyembunyikan uang kembalian, meskipun nilainya kecil, dapat menjadi pola perilaku yang terbawa hingga dewasa.

Salah satu upaya yang dilakukan Elmawati adalah rencana aksi “Moniati 21 Hari Antikorupsi” bagi siswa sekolah dasar kelas empat dan lima. Anak-anak diajak mencatat praktik kejujuran selama 21 hari dengan menerapkan nilai integritas seperti disiplin, kerja keras, mandiri, dan tanggung jawab.

Melalui RadioTalk tersebut, masyarakat diingatkan bahwa pencegahan korupsi bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun aparat. Integritas perlu tumbuh dari diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Membangun budaya antikorupsi dapat dimulai dari hal sederhana: berani jujur, bertanggung jawab, dan tidak membiasakan kecurangan.



Aditya Septiawan