Pilihan antara melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja setelah lulus sekolah kerap menjadi dilema bagi generasi muda. Di tengah tuntutan keluarga dan tekanan sosial, keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan, tujuan hidup, serta kondisi masing-masing individu.

Hal tersebut disampaikan Psikolog Klinis dan GM Hiraka Asa Indonesia, Dini Yulia Kurniati, M.Psi., Psikolog dalam RadioTalk After Day Insania FM Ternate, Selasa (25/8/2026), dengan tema “Pendidikan atau Karier? Mana yang Jadi Prioritas”.

Dini menjelaskan, tidak ada aturan psikologis yang mewajibkan seseorang untuk mendahulukan kuliah maupun bekerja. Hal yang lebih penting adalah memiliki orientasi masa depan dan memahami alasan di balik pilihan yang diambil.

Menurutnya, setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan anak muda sebelum menentukan langkah, mulai dari tahap perkembangan, kejelasan tujuan hidup, kondisi finansial, hingga minat terhadap pendidikan atau pekerjaan yang dipilih.

Kebingungan mengenai masa depan, kata Dini, merupakan hal yang cukup umum dialami remaja akhir. Namun, kondisi tersebut perlu dihadapi dengan mulai melakukan pemetaan terhadap tujuan hidup dan langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencapainya.

Orientasi masa depan juga perlu dibangun sejak masa sekolah. Anak perlu dibantu untuk mengenali minat dan bakatnya, sekaligus memahami berbagai pilihan yang tersedia sesuai dengan kemampuan dan kondisi keluarga.

Tekanan dari orang tua menjadi salah satu hal yang juga perlu diperhatikan. Dini mengingatkan agar harapan orang tua tidak berubah menjadi tekanan yang justru berdampak terhadap kondisi psikologis maupun prestasi akademik anak.

Komunikasi yang terbuka dalam keluarga dinilai penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Dini menyarankan orang tua dan anak membiasakan tiga kata sederhana, yaitu “terima kasih, maaf, dan tolong”, sebagai bagian dari komunikasi yang lebih empatik.

Dini juga menekankan bahwa pilihan karier bukan keputusan yang harus ditentukan sekali untuk seumur hidup. Pengalaman, kompetensi, dan kondisi kehidupan dapat membuat seseorang mengubah arah karier di kemudian hari.

Di tengah maraknya media sosial, generasi muda juga menghadapi tekanan untuk membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain. Fenomena flexing dan FOMO dapat membuat seseorang merasa tertinggal ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial.

Menurut Dini, salah satu cara menghadapi tekanan tersebut adalah dengan mengenali, menerima, dan menghargai kapasitas diri. Dengan demikian, anak muda tidak mudah menentukan pilihan hanya karena mengikuti pencapaian atau ekspektasi orang lain.

Bagi generasi muda yang masih bimbang, refleksi diri menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan sebelum mengambil keputusan. Mengenali apa yang ingin dicapai, kemampuan yang dimiliki, serta kondisi yang dihadapi dapat membantu menentukan langkah secara lebih realistis.

Melalui RadioTalk AfterDay, Insania FM mengajak generasi muda untuk tidak melihat pendidikan dan karier sebagai dua pilihan yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat menjadi bagian dari proses membangun masa depan, selama keputusan diambil dengan kesadaran, kesiapan, dan tujuan yang jelas.



Arie Erffandy