Nilai-nilai tradisional masyarakat Papua Barat Daya menghadapi tantangan di tengah derasnya modernisasi dan perkembangan teknologi digital. Pelestarian budaya dinilai perlu dilakukan dengan cara yang adaptif agar tetap hidup dan dekat dengan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Komaruddin, S.Sos., Founder Yayasan Kilau Arafuru Abadi, dalam RadioTalk Insania FM. Menurutnya, pelestarian budaya tidak berarti menolak perkembangan teknologi, tetapi mencari cara agar nilai-nilai tradisi dapat hadir di ruang yang akrab dengan generasi muda.
Tradisi lisan dan cerita rakyat yang sebelumnya diwariskan secara langsung di lingkungan keluarga maupun rumah adat kini dapat dikemas melalui berbagai media, seperti podcast, film pendek, hingga konten media sosial.
“Budaya itu dinamis, bukan sesuatu yang kaku. Kalau dulu cerita rakyat hanya disampaikan orang tua di rumah adat, sekarang kita harus mengemasnya lewat media sosial, podcast, maupun film pendek agar pesan moralnya sampai ke anak-anak muda,” ujar Komaruddin.
Selain melalui media digital, pelestarian budaya juga dinilai perlu diperkuat melalui pendidikan. Salah satunya dengan mendorong masuknya muatan lokal ke dalam kurikulum sekolah, termasuk pengenalan bahasa Moi di wilayah Sorong sejak jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah dasar.
Menurut Komaruddin, pengenalan bahasa daerah sejak usia dini penting karena bahasa merupakan bagian dari identitas budaya. Pembiasaan menggunakan bahasa lokal di lingkungan pendidikan diharapkan dapat menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah dominasi bahasa populer dan perubahan pola pergaulan.
“Bahasa daerah adalah fondasi utama dari identitas budaya kita. Ketika bahasa daerah mulai hilang dari percakapan sehari-hari anak-anak, maka sebagian dari identitas kebudayaan Papua juga ikut memudar,” tegasnya.
Ia juga menilai anggapan bahwa tradisi identik dengan sesuatu yang kuno perlu diluruskan. Sejumlah nilai adat justru memiliki prinsip yang relevan dengan tantangan kehidupan modern, salah satunya sasi yang mengajarkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Banyak yang mengira tradisi itu kuno, padahal kearifan lokal seperti sasi adalah bentuk konservasi alam paling efektif. Adat mengajarkan kita mengambil hasil laut atau hutan secukupnya agar ekosistem tetap terjaga bagi generasi mendatang,” jelas Komaruddin.
Di sisi lain, perkembangan internet juga membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda. Paparan budaya luar yang sangat cepat dapat memengaruhi gaya hidup apabila tidak diimbangi dengan ruang yang cukup bagi anak muda untuk mengenal dan mengembangkan budayanya sendiri.
Karena itu, Komaruddin mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, lembaga masyarakat, media, dan generasi muda untuk menciptakan ruang kreatif bagi kebudayaan Papua.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Anak-anak muda butuh wadah kreatif untuk mengeksplorasi budayanya. Jika kita beri ruang, warisan leluhur Papua ini bukan hanya bertahan, tetapi akan menjadi kebanggaan di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.
Pelestarian budaya pada akhirnya bukan sekadar mempertahankan bentuk-bentuk tradisi masa lalu. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu terus diwariskan, diterjemahkan, dan dihidupkan melalui cara yang relevan agar tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi berikutnya.