Balai Bahasa Provinsi NTB terus menggaungkan pentingnya pelestarian bahasa daerah. Pada kesempatan kali ini, Arie Andrasyah Isa selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB bersama dengan Gilang Aryo Damar (Widyabasa Ahli Pertama), menjadi pembicara dalam siaran  Insania FM Mataram dalam program Inspirasi Siang. Tema yang diangkat pada siaran ini adalah “Merawat Bahasa Daerah.”

Arie menyampaikan bahwa ada 11 bahasa daerah di NTB, tiga di antaranya adalah bahasa daerah asli, Sasak, Samawa, dan Mbojo. Ketiga bahasa daerah tersebut masih tergolong aman berdasarkan kajian vitalitas, tetapi ada tanda-tanda mengalami kemunduran. “Tanda-tanda kemunduran tersebut dapat dilihat dari makin banyaknya generasi muda yang tidak bisa dan malu berbahasa daerah,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Balai Bahasa Provinsi NTB mengupayakan segala cara untuk melestarikan bahasa daerah. Program-program yang dilaksanakan menyasar sektor formal ataupun informal. Revitalisasi Bahasa Daerah, pembuatan kamus bahasa daerah, dan pemetaan bahasa daerah adalah program inti yang bertujuan agar bahasa daerah terdokumentasi dengan baik dan dapat dipelajari dan dituturkan oleh generasi muda.

Gilang Aryo Damar menambahkan bahwa untuk melestarikan bahasa daerah, diperlukan kesadaran dari generasi muda. Dengan makin masifnya media sosial, konten-konten ringan berbahasa daerah menjadi angin segar betapa bahasa daerah dapat dipelajari, dirawat, dan dilestarikan dengan cara yang menyenangkan.

Selain peran generasi muda, keluarga menjadi ruang penting dalam pewarisan bahasa daerah. Membiasakan percakapan berbahasa daerah di rumah dapat membantu anak-anak mengenal bahasa ibunya sekaligus memahami nilai kesantunan dan budaya yang terkandung di dalamnya.

Radio juga dapat mendukung pelestarian bahasa daerah melalui cerita rakyat, lagu, dan dialog yang melibatkan pendengar. Sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan media diharapkan dapat memperluas ruang penggunaan bahasa daerah agar tetap hidup dalam keseharian masyarakat.