Kesetaraan gender tidak cukup berhenti pada pengakuan hak. Perempuan juga perlu mendapat kesempatan yang setara untuk menyampaikan aspirasi, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan berpartisipasi aktif di ruang publik tanpa rasa takut.
Hal tersebut disampaikan Fitrah Dwi Sari Noho, S.IP., M.Sos., aktivis perempuan sekaligus dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Tompotika Luwuk, dalam program Inspirasi Siang di Insania FM Luwuk, Kamis (15/10/2026). Mengangkat tema “Setara Bersuara, Setara Berkarya”, diskusi ini membahas tantangan dan pentingnya memperluas ruang partisipasi perempuan.
Fitrah menilai, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari stereotipe sosial hingga terbatasnya ruang untuk menyampaikan pendapat. Pandangan bahwa perempuan harus selalu diam, tidak membantah, atau menghindari sikap vokal dapat menghambat partisipasi mereka dalam kehidupan sosial dan politik.
Menurutnya, perempuan perlu memiliki keberanian untuk menyuarakan hak dan keresahannya melalui berbagai saluran, baik forum publik, aksi demonstrasi, maupun media sosial. Namun, keberanian tersebut harus diimbangi dengan lingkungan yang aman dan terbuka terhadap perbedaan pendapat.
Tantangan lain muncul di ruang digital. Perundungan daring dan penyebaran data pribadi dapat menjadi ancaman bagi perempuan yang menyampaikan kritik atau pendapatnya secara terbuka. Karena itu, perlindungan terhadap kebebasan berpendapat perlu berjalan beriringan dengan upaya menciptakan ruang digital yang aman.
Dalam bidang politik, keterwakilan perempuan minimal 30 persen menjadi salah satu upaya mendorong partisipasi perempuan. Namun, Fitrah menekankan bahwa keterwakilan perlu disertai kaderisasi dan penguatan kapasitas agar perempuan dapat terlibat secara substantif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya organisasi perempuan yang dekat dengan masyarakat. Organisasi tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, memperluas akses pendidikan, serta mendorong pemberdayaan perempuan agar semakin berdaya dalam berbagai bidang kehidupan.
Fitrah menegaskan, kesetaraan gender bukan semata-mata perjuangan perempuan. Dukungan laki-laki, keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak diperlukan untuk membangun lingkungan yang memberikan kesempatan setara bagi setiap orang.
Melalui ruang partisipasi yang aman dan terbuka, perempuan diharapkan dapat menyampaikan aspirasi, mengembangkan potensi, serta berkontribusi dalam pengambilan keputusan demi kehidupan masyarakat yang lebih adil.