Dalam Insania Peduli Kemanusiaan edisi Jumat, 17 Juli 2026, melalui tema “Kepedulian Sosial dan Mewujudkan Harapan”. Pusat Kemanusiaan AMCF Sulawesi Tengah menegaskan bahwa keberhasilan misi kemanusiaan tidak hanya ditentukan oleh cepatnya penyaluran bantuan, tetapi juga oleh perencanaan yang matang, koordinasi lintas sektor, serta kesiapan mental dan spiritual para relawan. Setiap aksi kemanusiaan selalu diawali dengan proses asesmen untuk menentukan wilayah prioritas sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Hal tersebut disampaikan Field Coordinator Pusat Kemanusiaan AMCF Sulawesi Tengah, Idil Fitrah Dg. Tiro.

Idil menjelaskan, sebelum tim turun ke lapangan, Pusat Kemanusiaan AMCF Sulawesi Tebgah melakukan survei untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat sekaligus menetapkan desa-desa yang menjadi prioritas penerima bantuan. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta berbagai pemangku kepentingan dilakukan sejak awal guna memastikan kegiatan kemanusiaan berjalan aman dan efektif. Menurutnya, kerja kemanusiaan membutuhkan kolaborasi yang kuat karena setiap relawan memiliki tanggung jawab berbeda namun tetap bergerak menuju tujuan yang sama.

“Dalam setiap misi, kami selalu memulai dengan asesmen, pembagian tugas, hingga pemetaan wilayah. Perbedaan karakter di dalam tim bukan menjadi hambatan, justru menjadi kekuatan ketika semua memiliki tujuan yang sama untuk membantu masyarakat,” ujar Idil.

Sementara itu, Muhammad Abdul Ghani menekankan bahwa pembinaan spiritual menjadi fondasi utama dalam menjaga semangat para relawan di tengah berbagai tantangan di lapangan. Menurutnya, kepedulian sosial yang tulus lahir dari kedekatan seseorang kepada Allah melalui ibadah, sehingga aksi kemanusiaan tidak hanya dimaknai sebagai penyaluran bantuan, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian. Pendekatan serupa diterapkan dalam membina para Da’i di berbagai daerah dengan menyesuaikan kondisi sosial, budaya, dan geografis tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar agama.

Ia mengungkapkan, salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika tim Pusat Kemanusiaan AMCF Sulawesi Tengah menjalankan program kemanusiaan dan dakwah di wilayah pedalaman Kabupaten Morowali Utara. Melalui pendekatan yang dilakukan secara bertahap, masyarakat setempat yang sebelumnya belum mengenal agama akhirnya memeluk Islam dan tetap istiqamah hingga saat ini. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa misi kemanusiaan tidak hanya menghadirkan bantuan, tetapi juga harapan serta perubahan yang berdampak dalam kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, Idil mengaku momen yang paling membekas selama mendampingi berbagai aksi kemanusiaan adalah melihat rasa syukur masyarakat penerima bantuan. Menurutnya, senyum dan ucapan terima kasih dari masyarakat yang hidup dalam keterbatasan menjadi pengingat bahwa nilai utama seorang relawan bukan sekadar memberi, melainkan menghadirkan kepedulian, keikhlasan, dan harapan bagi sesama.

Menutup perbincangan, kedua narasumber mengajak masyarakat untuk tidak menunggu memiliki kemampuan besar sebelum mulai peduli. Menjadi relawan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti membantu sesama atau menyebarkan informasi mengenai aksi kemanusiaan. Mereka berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan kemanusiaan dengan bekal kepedulian, kesiapan emosional, serta niat yang tulus sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan.



Nurul Dalillah