Aksi kemanusiaan di wilayah bencana tidak cukup hanya mengandalkan kepedulian. Pengetahuan, keterampilan, kesiapan, dan kemampuan memahami kebutuhan di lapangan menjadi bagian penting agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat terdampak.
Sekolah Relawan merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kerelawanan, kebencanaan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan kapasitas relawan. Melalui berbagai program dan kegiatan, Sekolah Relawan mendorong masyarakat untuk terlibat dalam aksi kemanusiaan secara terarah, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Informasi mengenai profil, program, serta kegiatan Sekolah Relawan dapat diakses melalui situs resmi sekolahrelawan.org.
Supervisor of Humanitarian and Volunteer Operation Sekolah Relawan, Muhammad Ardiansyah, dalam program Insania Peduli Kemanusiaan (IPK) Insania FM Radio Network, menjelaskan bahwa setiap operasi kemanusiaan perlu diawali dengan asesmen untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat. Proses tersebut dilakukan melalui penerjunan Tim Advance yang melakukan pendataan terhadap jumlah korban, kerusakan fasilitas, hingga kebutuhan mendesak di lokasi bencana.
Ardiansyah menjelaskan, relawan juga perlu memiliki kapasitas sebelum diterjunkan ke lapangan. Melalui Disaster Leadership Training, relawan dibekali kemampuan seperti manajemen aksi, pemetaan logistik, Basic Life Support, navigasi, hingga pemahaman kondisi lapangan untuk mendukung keselamatan selama operasi kemanusiaan.
Menurutnya, bantuan yang diberikan tanpa mengetahui kebutuhan di lapangan justru dapat menimbulkan persoalan baru. Salah satu contohnya adalah penumpukan pakaian layak pakai yang jumlahnya melebihi kebutuhan atau tidak sesuai dengan kondisi masyarakat terdampak.
Kebutuhan setiap wilayah bencana juga berbeda. Penanganan kebakaran hutan dan lahan, misalnya, dapat membutuhkan dukungan seperti masker, oksigen, dan vitamin, sementara bencana lain memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai karakteristik dan kondisi masyarakatnya.
Selain tanggap darurat, Sekolah Relawan juga mendorong proses pemulihan dengan melibatkan masyarakat terdampak. Melalui divisi Indonesia Community Development (ICD), masyarakat diajak menentukan kebutuhan dan arah pemulihan ekonomi melalui diskusi kelompok, sehingga proses pemulihan tidak hanya bergantung pada bantuan.
Pendekatan tersebut antara lain diterapkan melalui program pembangunan kembali 40 kapal nelayan di Palu. Masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan agar dapat kembali menjalankan aktivitas dan membangun kemandirian setelah bencana.
Ardiansyah juga mengingatkan bahwa menjadi relawan tidak selalu berarti harus datang langsung ke lokasi bencana. Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan memastikan informasi kebencanaan yang dibagikan telah terverifikasi.
Melalui Insania Peduli Kemanusiaan, masyarakat diajak memahami bahwa kepedulian dalam aksi kemanusiaan perlu disertai pengetahuan, keterampilan, koordinasi, dan kesiapan. Dengan kapasitas yang baik, bantuan dapat diberikan secara lebih tepat, aman, dan tetap menghormati martabat masyarakat terdampak.