Masyarakat Sulawesi Selatan diingatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam program Insania Peduli Kemanusiaan bertema “Memahami Dampak Musim Kemarau dan El Nino” yang menghadirkan Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, sebagai narasumber.
Dalam perbincangan tersebut, Rizky menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu muka laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dibandingkan kondisi rata-ratanya. Meskipun terjadi jauh dari wilayah Indonesia, fenomena tersebut dapat memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia, salah satunya melalui berkurangnya curah hujan.
Rizky menjelaskan bahwa El Nino memiliki karakteristik yang berbeda dengan La Nina. Jika El Nino cenderung menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia, La Nina justru dapat meningkatkan curah hujan dan berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir.
Untuk wilayah Sulawesi Selatan, sebagian besar daerah disebut telah memasuki musim kemarau. Kabupaten Kepulauan Selayar mulai memasuki musim kemarau sejak Maret, disusul Jeneponto dan Takalar pada April, sementara Kota Makassar mulai mengalami musim kemarau pada Mei.
Menurut Rizky, puncak musim kemarau di Sulawesi Selatan diperkirakan terjadi pada Agustus dan September. Masyarakat perlu mewaspadai berkurangnya curah hujan, potensi kekeringan, serta peningkatan suhu udara yang dapat mencapai sekitar 30 hingga 35 derajat Celsius.
Kondisi kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Nino juga dapat memberikan dampak terhadap sejumlah sektor kehidupan. Di bidang pertanian, berkurangnya ketersediaan air dapat meningkatkan risiko kekeringan dan gagal panen. Sementara di sektor energi, menurunnya ketersediaan air berpotensi memengaruhi produksi listrik pada pembangkit listrik tenaga air.
Namun, Rizky menekankan bahwa El Nino tidak selalu berdampak negatif terhadap seluruh sektor. Kondisi cuaca yang lebih kering juga dapat memberikan peluang bagi sektor tertentu, termasuk perikanan tangkap dan produksi garam yang membutuhkan kondisi cuaca relatif kering dalam proses produksinya.
Karena itu, masyarakat dinilai tidak perlu panik menghadapi kondisi kemarau maupun fenomena El Nino. Sebaliknya, kesiapsiagaan dan persiapan sejak dini perlu dilakukan agar berbagai potensi dampak dapat diantisipasi.
Rizky juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mengikuti informasi mengenai cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG. Menurutnya, informasi berbasis data menjadi penting agar masyarakat dapat menentukan langkah antisipasi secara tepat sesuai kondisi yang terjadi.
Melalui radiotalk tersebut, Insania FM mendorong masyarakat untuk lebih memahami fenomena cuaca dan iklim sekaligus membangun kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi lingkungan. Dengan informasi yang tepat dan persiapan sejak dini, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko serta tetap menjalankan aktivitas secara aman selama puncak musim kemarau.