Potensi kakao di Maluku Utara dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Selain mampu menciptakan peluang usaha baru, pengembangan industri cokelat lokal juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas produk dan kandungan gizinya agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin sadar akan pola hidup sehat.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Inspirasi Siang Insania FM Radio Network pada Rabu, 8 Juli 2026 yang bertajuk “Cokelat Untuk Sehat, Cokelat Untuk Usaha” yang menghadirkan Manajer Ifa Moy, Sugiarto A Husen, dan Dokter Spesialis Gizi Klinik RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, dr. Sicka Agustia Olii, Sp.GK.

Manajer Ifa Moy, Sugiarto A Husen, mengatakan kakao bukan hanya komoditas perkebunan, tetapi memiliki nilai tambah yang besar ketika diolah menjadi berbagai produk turunan. Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk menghadirkan cokelat berkualitas yang mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.

Ia menilai pengembangan usaha kakao tidak cukup hanya mengandalkan hasil panen, tetapi juga perlu didukung inovasi produk, pengemasan yang menarik, serta edukasi kepada masyarakat mengenai keunggulan cokelat lokal. Dengan begitu, kakao dapat menjadi salah satu komoditas yang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat identitas produk khas daerah.

Di sisi lain, aspek kesehatan juga menjadi perhatian penting dalam pengembangan produk cokelat. Dokter Spesialis Gizi Klinik RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, dr. Sisca Agustia Olii, Sp.GK, menjelaskan bahwa cokelat, khususnya yang memiliki kandungan kakao tinggi, mengandung senyawa flavonoid dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan tersebut bermanfaat membantu melindungi tubuh dari radikal bebas, menjaga kesehatan pembuluh darah, serta mendukung fungsi jantung.

Namun, ia mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak selalu ditemukan pada semua jenis cokelat. Produk dengan tambahan gula, susu, dan bahan pemanis dalam jumlah tinggi justru dapat mengurangi manfaat kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

“Semakin tinggi kandungan kakaonya, umumnya semakin baik nilai gizinya. Karena itu, pelaku usaha perlu memperhatikan kualitas bahan baku sekaligus mencantumkan informasi kandungan produk secara jelas agar konsumen dapat memilih sesuai kebutuhannya,” ujar dr. Sisca.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya edukasi mengenai pola konsumsi. Menurutnya, cokelat bukan makanan yang harus dihindari, melainkan perlu dikonsumsi secara bijak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.

Melalui sinergi antara pelaku usaha, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, pengembangan industri kakao diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang memiliki daya saing tinggi, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan konsumen. Dengan kualitas yang terus ditingkatkan, kakao lokal berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan Maluku Utara yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat industri pangan berbasis potensi daerah.



Arie Errfandy