Sagu bukan hanya pangan tradisional, tetapi juga identitas budaya yang memiliki potensi besar di pasar global. Semangat inilah yang diusung Kagōunga, jenama asal Ternate, Maluku Utara, yang menghadirkan inovasi berbasis sagu melalui produk pangan modern dan karya seni.

Hal tersebut disampaikan Co-founder & CMO Kagōunga, Aiya Lee saat menjadi narasumber dalam program Indonesiana di Insania FM Radio Network.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Popeda Instan lengkap dengan kuah kuning khas Maluku Utara. Produk ini dikembangkan melalui riset selama hampir satu tahun sehingga popeda dapat disajikan dalam waktu singkat tanpa menghilangkan cita rasa autentiknya. Menariknya, rempah-rempah lokal yang digunakan juga berfungsi sebagai pengawet alami.

“Bagi kami, sagu bukan sekadar makanan, tetapi identitas masyarakat Maluku Utara yang harus terus diperkenalkan kepada dunia,” ujar Aiya.

Tak hanya berfokus pada inovasi pangan, Kagōunga juga memperkenalkan budaya Maluku Utara melalui album musik bertajuk Magori yang berisi 18 lagu. Album tersebut mengangkat berbagai cerita tentang sejarah, budaya, hingga filosofi kehidupan masyarakat Maluku Utara dalam balutan musik modern.

Saat ini, Kagōunga telah mengikuti berbagai ajang nasional, termasuk Ubud Food Festival, serta menjalin kemitraan dengan Javara Indonesia. Ke depan, Kagōunga juga tengah mempersiapkan ekspansi ke pasar Asia Timur dengan melakukan pengembangan produk dan penyempurnaan desain kemasan.

Selain membawa produk lokal ke pasar yang lebih luas, Kagōunga juga melibatkan mayoritas anak muda dalam proses kreatif dan produksi. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekonomi kreatif daerah, tetapi juga mendorong semakin banyak generasi muda untuk bangga mengembangkan potensi lokal.

Melalui inovasi yang memadukan teknologi pangan, budaya, dan kreativitas, Kagōunga ingin membuktikan bahwa warisan khas Maluku Utara mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.



Arie Erffandy