Pesantren tidak hanya menjadi tempat memperdalam ilmu agama, tetapi juga ruang bagi santri untuk membangun karakter, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman. Perpaduan pendidikan keagamaan dan pengetahuan umum menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang berakhlak sekaligus adaptif terhadap teknologi.

Hal tersebut dibahas dalam program RadioTalk 87,6 Insania FM Ternate dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2026), bersama Kepala Kurikulum Pondok Pesantren Al-Khairat Kalumpang, Ahmad Assagaf, S.Hum., dan santri aktif, Sayyid Fadhil Assegaf.

Ahmad menjelaskan, salah satu upaya pesantren dalam menyiapkan kader ulama dan pendidik dilakukan melalui program Muallimin, yang mengintegrasikan pendidikan pesantren dengan sekolah formal. Melalui program ini, santri mendapatkan penguatan bahasa Arab dan pendalaman ilmu keagamaan, sekaligus tetap mengikuti pelajaran umum, termasuk informatika dan literasi digital.

Pembentukan kemampuan santri juga berlangsung melalui kegiatan di luar kelas. Latihan ceramah dan pembiasaan berbahasa Arab membantu mengasah kemampuan komunikasi serta kepercayaan diri. Bagi santri berprestasi, kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri turut terbuka. Sejumlah alumni Al-Khairat Kalumpang diketahui telah melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Di tengah perkembangan teknologi, pesantren berupaya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan perangkat digital dan pembentukan kedisiplinan. Penggunaan telepon seluler dibatasi, sementara pembelajaran informatika dan fasilitas laboratorium komputer tetap disediakan agar santri mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan tetap memperhatikan etika dan adab.

Sementara itu, Sayyid Fadhil Assegaf, yang telah menjalani pendidikan selama tiga tahun di Al-Khairat Kalumpang, menceritakan bahwa kehidupan pesantren tidak hanya diisi kegiatan belajar agama. Santri juga dapat mengembangkan minat dan bakat melalui seni hadrah, olahraga pencak silat, serta berbagai kegiatan di luar kelas yang mempererat kebersamaan.

Beragam aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan kemampuan bersosialisasi. Pengalaman hidup bersama di lingkungan pesantren juga memberikan ruang bagi santri untuk tumbuh, mengenali potensi diri, dan belajar bertanggung jawab.

Momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren terus berperan dalam menyiapkan generasi yang kuat dalam nilai keagamaan, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Melalui perpaduan pendidikan agama, pengetahuan umum, serta literasi teknologi, santri diharapkan dapat berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa tanpa kehilangan jati diri.


Arie Erffandy