Kehadiran ayah dalam keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Kehadiran tersebut tidak hanya dimaknai sebagai keberadaan secara fisik di rumah, tetapi juga melalui perhatian, komunikasi, keteladanan, dan keterlibatan dalam kehidupan anak.
Hal tersebut disampaikan Dr. KH. Muhammad Muadz, Lc., M.H.I., GR., Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Hikmah Luwuk, Banggai, yang akrab disapa Ustadz Muaz dalam program RadioTalk Sapa Umi & Abi dengan topik ****“Hadirnya Ayah dalam Keluarga”.
Menurut Ustadz Muaz, setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, sementara perkembangan anak selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan peran orang tua. Dalam keluarga, ayah memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin sekaligus sosok yang memberikan arah dan keteladanan bagi anak.
Kehadiran ayah, menurutnya, tidak ditentukan oleh seberapa lama berada di rumah, tetapi seberapa bermakna waktu yang diberikan kepada anak. Ayah perlu membangun komunikasi, menjadi pendengar yang baik, serta menciptakan rumah sebagai tempat yang membuat anak merasa diperhatikan, didengar, dan dianggap penting.
Anak juga perlu dibimbing untuk menghadapi persoalan dengan cara mencari solusi. Dalam proses tersebut, orang tua diharapkan mampu memberikan arahan dan nasihat dengan bahasa yang lembut, sehingga anak tidak merasa takut untuk menceritakan masalah yang dihadapinya.
Selain membangun kedekatan emosional, ayah juga memiliki peran sebagai teladan spiritual dan moral. Nilai agama dan kebaikan dapat ditanamkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengajarkan anak membaca Al-Fatihah dan memberikan pemahaman tentang pentingnya menjalankan nilai-nilai agama.
Ustadz Muaz menyampaikan, ilmu dan kebaikan yang diajarkan kepada anak dapat menjadi amal yang terus mengalir. Karena itu, pendidikan dalam keluarga tidak hanya berorientasi pada pencapaian, tetapi juga membentuk anak menjadi pribadi yang sederhana, bertanggung jawab, dan dekat dengan nilai-nilai kebaikan.
Ia juga mengingatkan pentingnya meluangkan waktu untuk quality time bersama keluarga. Waktu bersama dapat menjadi ruang bagi orang tua untuk mengenal anak lebih dekat, memberikan motivasi, mendukung pendidikan, sekaligus membangun hubungan yang lebih terbuka.
Anak perlu dibiasakan menjadikan orang tua sebagai tempat pertama untuk bercerita ketika menghadapi persoalan. Dengan komunikasi yang terbuka, keluarga dapat menjadi ruang yang memberikan rasa aman sekaligus tempat bagi anak untuk mendapatkan arahan dalam menghadapi berbagai situasi.
Melalui program Sapa Umi & Abi, orang tua diajak memahami bahwa mendidik anak membutuhkan kehadiran dan keteladanan. Perhatian, kasih sayang, komunikasi, nasihat, dan contoh dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam membangun hubungan anak dengan orang tua, dengan Allah SWT, maupun dengan lingkungan sosialnya.
Kehadiran ayah pada akhirnya bukan sekadar tentang berada di rumah, tetapi tentang hadir dengan hati, mendengar dengan perhatian, dan membimbing anak melalui keteladanan.