Film tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga dapat membuka kesadaran masyarakat terhadap persoalan sosial dan mendorong perubahan kebijakan. Kekuatan film dalam memotret realitas tersebut menjadi pembahasan dalam program Saling Bahu Insania FM Ternate.
Diskusi bertajuk “Dari Layar ke Regulasi” menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Hukum Universitas Khairun Ternate, Didith Prahara, S.H., M.H. Dalam perbincangan tersebut, film dibahas sebagai salah satu media yang dapat membangun kesadaran publik sekaligus memicu perhatian terhadap persoalan hukum.
“Film bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran masyarakat. Namun, perubahan hukum tidak terjadi hanya karena sebuah film ditonton banyak orang,” ujar Didith.
Menurutnya, perubahan hukum melalui film tidak berlangsung secara instan. Proses tersebut dapat dimulai dari keresahan yang dituangkan dalam karya, kemudian berkembang menjadi kesadaran publik hingga mendorong advokasi dan perubahan kebijakan.
“Dari film, masyarakat bisa melihat persoalan yang sebelumnya mungkin tidak mereka ketahui. Setelah itu, diperlukan penelitian, data, advokasi, dan proses legislasi agar persoalan tersebut benar-benar dapat direspons melalui kebijakan,” jelasnya.
Salah satu contoh yang dibahas adalah film Korea Selatan Silenced yang mengangkat kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas. Film tersebut turut memicu perhatian publik terhadap perlindungan hukum bagi korban dan mendorong perubahan kebijakan di Korea Selatan.
Sejumlah film lain juga dinilai mampu membuka ruang diskusi mengenai persoalan sosial, lingkungan, hak perempuan, kekerasan seksual, hingga kesehatan reproduksi. Namun, popularitas sebuah film tidak serta-merta menjadi dasar terbentuknya regulasi.
Didith menegaskan, perubahan hukum tetap membutuhkan proses yang matang agar kebijakan yang dihasilkan tidak hanya didasarkan pada emosi atau tekanan publik sesaat.
“Regulasi harus dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat, data, dan kajian yang kuat. Film dapat mendorong perhatian publik, tetapi proses hukumnya tetap harus berjalan sesuai mekanisme,” katanya.
Melalui Saling Bahu, Insania FM mengajak masyarakat menjadi penonton yang lebih kritis dengan melihat film tidak hanya dari sisi hiburan, tetapi juga memahami pesan sosial dan hukum yang disampaikan.
Film dapat menjadi suara bagi persoalan yang belum banyak didengar. Namun, perubahan yang berkelanjutan tetap membutuhkan kesadaran publik, advokasi, serta proses hukum yang tepat.