Budaya lokal tidak harus berhenti di panggung sendiri. Dengan ruang pertunjukan yang tepat, tradisi daerah dapat dikenal lebih luas, berdialog dengan kebudayaan dunia, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk kembali mencintai warisan leluhurnya.
Semangat tersebut diusung Festival Lipu Celebes yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraan dan dijadwalkan berlangsung pada 11–15 November 2026 di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Festival ini dirancang sebagai ruang pertemuan seni tradisi dari berbagai daerah dan negara, sekaligus upaya memperkenalkan kebudayaan Banggai ke panggung internasional.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banggai, Subrata Kalape, S.Sn., M.M., menjelaskan bahwa festival ini menjadi salah satu upaya membawa seni dan tradisi lokal agar dapat dikenal serta diapresiasi secara global. Menurutnya, kebudayaan daerah memiliki potensi untuk tampil sejajar dengan folklor dari berbagai negara apabila diberikan ruang dan kesempatan yang memadai.
Festival tahun ini dijadwalkan menghadirkan delegasi dari sejumlah negara Eropa, yakni Estonia, Bulgaria, Polandia, Slovakia, dan Slovenia. Perwakilan dari dalam negeri juga akan hadir, di antaranya dari Kabupaten Bogor, Buol, Kota Palu, dan Parigi Moutong. Pertemuan lintas budaya ini diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi dan keramahan masyarakat Banggai kepada pengunjung dari berbagai latar belakang.
Bagi generasi muda, festival ini juga menjadi kesempatan untuk melihat seni tradisional dari sudut pandang yang berbeda. Tarian, musik, dan teater daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan ekspresi budaya yang dapat terus berkembang dan menemukan tempat di tengah perubahan zaman. Ketika budaya lokal memperoleh panggung yang setara, anak muda memiliki kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkannya dengan cara yang relevan.
Tidak hanya menampilkan pertunjukan, Festival Lipu Celebes juga memberi perhatian pada upaya menghidupkan kembali tradisi yang mulai jarang dijalankan. Salah satunya adalah ritual adat Mongkan Boas Buo, yakni ungkapan syukur atas panen padi di wilayah Masama. Revitalisasi tradisi seperti ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya takbenda agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Subrata juga menekankan pentingnya pendataan dan pengakuan terhadap warisan budaya daerah. Upaya tersebut mencakup pelestarian bahasa Balantak serta proses pengusulan tradisi Silat Saluan Langka Tanong. Dokumentasi dan penetapan warisan budaya diharapkan dapat memperkuat perlindungan terhadap identitas budaya masyarakat Banggai.
Di sisi lain, festival ini diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin, serta pelaku ekonomi kreatif. Kehadiran pengunjung menjadi peluang untuk memperkenalkan produk lokal dan kuliner tradisional, sehingga kegiatan kebudayaan juga dapat menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Festival Lipu Celebes memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mengenang masa lalu. Tradisi perlu terus dihidupkan, diperkenalkan, dan diberi ruang untuk berkembang. Di tengah perubahan zaman, warisan leluhur akan tetap bermakna ketika masyarakat, terutama generasi muda, ikut merawatnya dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.