Kemudahan akses keuangan digital membuka peluang bagi generasi muda untuk menabung dan berinvestasi. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, tren finansial juga dapat membawa risiko, mulai dari keputusan investasi karena ikut-ikutan hingga penipuan dan pinjaman online ilegal.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program RadioTalk Afterday Insania FM Sorong bersama Kepala OJK Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahmat, serta Kepala Wilayah BEI Papua, Kresna Aditya Payokwa. Keduanya mengajak generasi muda agar lebih bijak mengelola keuangan dan merencanakan tujuan finansial.

Budi Rahmat mengungkapkan, berdasarkan data yang disampaikan dalam diskusi, tingkat inklusi keuangan Papua Barat Daya pada 2026 mencapai 93,20 persen, mendekati angka nasional sebesar 93,61 persen. Sementara itu, tingkat literasi keuangan masih berada di angka 56,16 persen, di bawah angka nasional sebesar 69,57 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa kemudahan mengakses layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai manfaat, risiko, dan cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Untuk menghindari penipuan, Budi mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis. Artinya, masyarakat perlu memastikan legalitas penyedia layanan sekaligus menilai kewajaran tawaran yang diberikan sebelum mengambil keputusan keuangan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap aplikasi pinjaman online ilegal, terutama yang meminta akses berlebihan terhadap data pribadi. Jika menjadi korban penipuan keuangan digital, masyarakat dapat melapor melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di iasc.ojk.go.id atau menghubungi layanan OJK melalui nomor 157.

Sementara itu, Kresna Aditya Payokwa menyoroti pertumbuhan investor pasar modal di Papua. Ia menyebut jumlah investor yang pada 2012 berkisar 500 orang kini telah melampaui 200.000 investor. Perkembangan ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi.

Meski demikian, ia mengingatkan agar investor pemula tidak sekadar mengikuti tren atau keputusan orang lain. Pemahaman terhadap analisis investasi, tujuan keuangan, dan profil risiko perlu menjadi pertimbangan sebelum menempatkan dana.

BEI juga menyediakan edukasi melalui program Sekolah Pasar Modal yang dapat diikuti secara daring. Selain menambah pengetahuan, generasi muda didorong membiasakan diri menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dan investasi sesuai kemampuan.

Mengelola keuangan bukan tentang mengikuti tren yang sedang populer, melainkan membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan jangka panjang. Dengan literasi keuangan yang lebih baik, generasi muda dapat beralih dari sekadar takut tertinggal tren (fear of missing out atau FOMO) menuju perencanaan finansial yang lebih terarah.



Muhammad Rafif