Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat seseorang kehilangan rasa syukur, memunculkan iri dan dengki, serta menghambat proses memperbaiki diri. Karena itu, setiap orang perlu belajar menerima perjalanan hidupnya dan fokus pada perkembangan diri sendiri.

Hal tersebut disampaikan Umi Fitria Yusuf, Direktur Bidang Usaha sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Hikmah Luwuk, Banggai, dalam program RadioTalk Afterday “Sapa Umi & Abi”, Jumat (11/9/2026). Perbincangan mengangkat tema “Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain” dengan tagline “Teman Umi, Sahabat Abi, Menginspirasi Keluarga.”

Umi Fitria mengingatkan pesan dalam QS. An-Nisa ayat 32 agar manusia tidak iri terhadap kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada orang lain. Menurutnya, setiap orang memiliki rezeki, kemampuan, perjalanan, dan waktu pencapaian yang berbeda.

Kebiasaan membandingkan diri dapat dikurangi dengan mengenali pemicunya, memperbanyak rasa syukur, serta mengalihkan perhatian pada progres diri sendiri. Pikiran negatif juga perlu diganti dengan afirmasi positif dan membiasakan diri untuk menikmati proses yang sedang dijalani.

Menurut Umi Fitria, keberhasilan orang lain seharusnya tidak menjadi alasan untuk merasa rendah diri. Sebaliknya, pencapaian orang lain dapat dijadikan motivasi, karena apa yang terlihat sering kali hanya hasil akhirnya tanpa mengetahui perjuangan yang telah dilalui.

Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan membandingkan diri dapat membuat seseorang lupa terhadap nikmat yang telah dimiliki. Bahkan, kenikmatan yang diterima dapat menjadi ujian untuk melihat sejauh mana seseorang mampu bersyukur kepada Allah SWT.

Penyakit hati seperti hasad dan dengki juga perlu diwaspadai karena dapat merusak amal kebaikan. Karena itu, Umi mengajak masyarakat untuk menyibukkan diri dengan memperbanyak taubat, memohon ampun kepada Allah, dan terus berusaha memperbaiki diri.

Dalam kehidupan keluarga, orang tua juga diingatkan untuk mengajarkan anak agar tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran kehidupannya. Setiap anak memiliki rezeki dan perjalanan masing-masing, sehingga doa dan permintaan hendaknya disampaikan kepada Allah SWT.

“Jika ada kemauan dan permintaan, mintalah dan memohon sama Allah SWT,” ujar Umi Fitria.

Ia juga berpesan agar doa disampaikan dengan menghadirkan hati dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat, termasuk dengan memanfaatkan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.

Menutup perbincangan, Umi Fitria menyampaikan pesan sederhana, “Hidupmu menjadi apa yang kamu fokuskan.” Menurutnya, ketika seseorang memilih fokus memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, rasa syukur akan tumbuh dan kehidupan dapat dijalani dengan lebih tenang.

Melalui Sapa Umi & Abi, Sahabat Insania diajak untuk berhenti mengukur kehidupan berdasarkan pencapaian orang lain. Setiap orang memiliki waktunya sendiri, sehingga yang terpenting adalah terus bertumbuh, bersyukur, dan memperbaiki diri.



Fitri Kireina