Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai budaya, kearifan lokal, dan identitas masyarakat penuturnya. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, upaya melestarikan bahasa daerah perlu dimulai dari lingkungan keluarga hingga ruang digital.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program RadioTalk Insania FM 100,8 Makassar bersama Amriani H., S.S., M.A., Widyabasa Ahli Muda dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan. Mengangkat tema “Merawat Bahasa, Menjaga Jati Bangsa”, diskusi ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mengenal dan menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Amriani menjelaskan, berdasarkan Peta Bahasa yang diterbitkan Badan Bahasa pada 2019, Indonesia memiliki 718 bahasa. Dari jumlah tersebut, 14 bahasa berada di Sulawesi Selatan dan sembilan bahasa di Sulawesi Barat, dua wilayah yang termasuk dalam cakupan kerja Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagian bahasa tersebut menghadapi ancaman kepunahan sehingga membutuhkan upaya pelindungan dan pelestarian.

Menurutnya, setiap bahasa menyimpan ungkapan dan kearifan lokal yang tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain. Sapaan, istilah, hingga ungkapan khas suatu daerah mencerminkan cara masyarakat memahami kehidupan dan membangun hubungan sosial.

“Dalam setiap bahasa, terdapat ungkapan-ungkapan kearifan lokal yang tidak akan sama jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa menunjukkan budaya penuturnya,” ujar Amriani.

Sebagai bagian dari upaya pelindungan bahasa dan sastra daerah, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan menjalankan program Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Program ini menyasar peserta didik tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama melalui berbagai kegiatan, seperti mendongeng, berpidato, komedi tunggal, hingga menulis cerpen menggunakan bahasa daerah.

Berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap bahasa ibu. Pelestarian bahasa tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran formal, tetapi juga dengan membangun kebiasaan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Tantangan pelestarian bahasa daerah turut menjadi perhatian dalam diskusi. Perkawinan antarsuku yang menggunakan bahasa berbeda dalam keluarga serta anggapan bahwa bahasa daerah sudah ketinggalan zaman atau kurang modern dapat memengaruhi keberlanjutan penggunaannya di kalangan anak muda.

Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam memperkenalkan bahasa daerah sejak dini. Di sisi lain, media sosial juga membuka peluang bagi generasi muda dan kreator konten lokal untuk menghadirkan bahasa daerah melalui konten yang kreatif, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan mengusung slogan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”. Ketiga hal tersebut bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi kemampuan yang dapat dikembangkan secara seimbang sesuai kebutuhan dan konteks penggunaannya.

Menutup perbincangan, Amriani mengajak Sahabat Insania untuk membangun sikap positif terhadap bahasa daerah dan tidak ragu menggunakannya. Kebanggaan terhadap bahasa ibu menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Melalui RadioTalk ini, Insania FM mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga bahasa daerah merupakan bagian dari merawat identitas bangsa. Ketika bahasa terus digunakan dan diwariskan antargenerasi, nilai budaya yang terkandung di dalamnya juga memiliki kesempatan untuk tetap hidup.



Bagus Subryanto