Kemudahan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menghasilkan tulisan, mengolah informasi, hingga membantu pekerjaan sehari-hari perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis. Generasi muda diingatkan agar tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Pesan tersebut disampaikan Adrian Kede, S.I.Kom., M.I.Kom., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Luwuk, dalam program RadioTalk Inspirasi Siang.
Menurut Adrian, AI telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses panjang, seperti mencari ide, menerjemahkan informasi, dan menyusun tulisan, kini dapat dilakukan lebih praktis dengan bantuan teknologi.
Namun, kemudahan itu juga membawa tantangan. Salah satunya adalah kebiasaan menerima dan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Karena itu, literasi digital menjadi bekal penting, terutama bagi mahasiswa dan generasi muda yang aktif di ruang digital.
Adrian juga menyoroti pengaruh algoritma media sosial dalam membentuk pola konsumsi informasi. Konten yang sering dilihat atau direspons pengguna akan memengaruhi rekomendasi berikutnya. Tanpa kesadaran kritis, pengguna berisiko terus terpapar informasi serupa dan kurang terbuka terhadap perspektif lain.
Ia menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu untuk mengembangkan gagasan, bukan menggantikan proses berpikir manusia. Pengguna tetap perlu menilai informasi, memastikan akurasinya, serta bertanggung jawab atas konten yang dihasilkan dan disebarluaskan.
“AI dapat membantu kita dalam banyak hal, bukan hanya tulisan, tetapi juga video. Namun, jangan sampai AI mengalihkan kita dari proses berpikir dan bertindak,” pesan Adrian kepada generasi muda.
Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nalar kritis, kecerdasan emosional, dan etika komunikasi. Dengan begitu, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas tanpa mengurangi kemampuan manusia dalam mengambil keputusan.
Di tengah teknologi yang semakin canggih, tantangannya bukan sekadar mampu menggunakan AI, melainkan tetap berpikir mandiri dan bertanggung jawab atas setiap informasi yang dipercaya maupun dibagikan.